ABU DHABI – DUBAI – WHAT FASCINATING CITIES

Hari pertama kedatangan tim prodi PGSD Penjas di Abu Dhabi yang lebih awal satu hari dari jadwal kongres, telah memunculkan kepenasaran untuk mengunjungi kota Dubai, kota terbesar di Uni Emirat Arab, yang terkenal dengan Menara Al-Burj Halifa-nya. Karena itu tim sepakat bahwa hari itu, Sabtu tanggal 22 Oktober 2022, tim akan melakukan kunjungan ke Dubai. Informasi pun digali, terutama melalui google, bagaimanakah kita pergi ke Dubai dengan cara yang paling mudah dan paling murah.

Diperoleh informasi bahwa jarak Abu Dhabi – Dubai adalah sekitar 139 km, dan cara termurah tetapi nyaman adalah menumpang Bus antar kota, yang dapat diambil dengan cara mendatangi terminal Bis di kota Abu Dhabi. Diketahui juga harga tiket bus ke Dubai, adalah sebesar 35 Dirham, dan kita harus membeli kartu tiket Bis tersebut seharga 40 Dirham. Dengan demikian, pada perjalanan pulang nanti, kita harus mengisi ulang kartu tersebut sebesar 35 Dirham untuk Kembali ke Abu Dhabi.

Abu Dhabi adalah ibu kota dari negara Uni Emirat Arab (UEA). Ia adalah kota yang besar dan modern, yang menjadi melting pot dari berbagai suku bangsa yang menjadikannya sebagai kota termodern dan ter-multi-kultural di dunia. Di Abu Dhabi, sudah jarang kita mendengar bahsa arab di tempat-tempat keramaian, karena seluruh penduduknya sudah bertransformasi menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari, baik di lingkungan masyarakat maupun di lingkungan formal perkantoran dan sekolah-sekolah, apalagi perguruan tinggi. Ada yang menyebutkan bahwa penduduk UEA secara keseluruhan adalah kurang lebih 8 juta orang, di mana penduduk yang berasal dari bangsa arabnya hanya berjumlah sekitar 1, 5 juta orang, sedangkan sisanya adalah para pendatang yang menetap di sana. Tidak heran, di mana-mana yang Anda lihat adalah orang-orang bule, orang asia, bahkan orang afrika yang sudah menjadi penduduk setempat. Bahasanya tentu bahasa internasional.

Bagaimana dengan Dubai? Kota Dubai adalah kota kedua, tetapi dalam hal ukuran dan kemodernan ternyata lebih besar, lebih ramai, dan lebih modern daripada Ibukota negara, yaitu Abu Dhabi. Oleh karena itu lah kami penasaran, bagaimanakah rupa dan kemodernan kota Dubai? Itulah yang mendorong kami berkunjung ke dubai di hari pertama ketibaan kami di UEA. Bukankah kita sudah sering mendengar kehebatan Al Burj Khalifa dari sisi ketinggian dan kemegahannya? Khabarnya, di Al Burj juga terdapat aquarium terbesar di dunia? Wow, mengapa tidak? Mari kita berkunjung ke Dubai.

Setelah sarapan, tim segera bersiap-siap dengan perbekalan ala kadarnya. Baru teringat bahwa karena untuk bisa masuk ke Gedung Kongres besok perlu menunjukkan hasil tes PCR, tim pun mencari informasi dulu untuk bisa tes PCR di sekitar hotel, yang memang terletak di satu kompleks atau area yang agak jauh dari kota atau pemukiman penduduk. Tetapi, hotel tersebut benar-benar bersisian dengan lokasi penyelanggaraan Kongres, yang dipilih oleh panitia di Abu Dhabi Convention Center, yang megah dan luasnya sungguh naudzubillah. Untungnya, diperoleh informasi bahwa di Gedung konvensi pun tersedia klinik untuk tes PCR, sehingga tim secara sengaja mendatangi Gedung tersebut sambil mempelajari lokasi pelaksanaan kongres. Tambah melegakan karena hasil tes PCR dapat dikirimkan ke hp masing-masing sehingga tidak usah ditunggu di lokasi atau tidak erlu diambil sendiri. Syaratnya tentu saja harus mendaftarkan nomor HP dan sekalian nomor passport juga.

Dengan keyakinan bahwa besok tidak terkendala, tim akhirnya meminggil taksi dan minta diantar ke terminal Bis. Ongkosnya lumayan murah jika dibandingkan harus memilih taksi langsung ke Abu Dhabi. Setibanya di terminal, kita langsung menuju loket konter penjualan tiket, dan diperolehlah dua buah kartu Bis tersebut yang isinya masing-masing 40 Dirham. Ketiak kami bertanya tentang bis mana yang ke Dubai, baru ketahuan bahwa ada dua tujuan yang berbeda di mana Bis akan berhenti di kota Dubai-nya. Nah lho, terminal mana kira-kira yang dianggap lebih dekat. Setelah tanya sana-sini, maksudnya mencari yang kira2 bisa Bahasa Inggris, kami memilih Bis yang tujuan akhirnya ke terminal Batuba. Katanya, Terminal Batuba berada di lokasi kompleks Mall Batuba juga yang ukurannya cukup besar. DI samping itu, dari terminal Batuba ini akan sangat mudah naik metro link yang akan mengantar kita ke tujuan lokasi yang dekat ke kompleks Menara Al-Burj Khalifa.

Perjalanan selama satu setengah jam kami nikmati sambil mengamati dan mengagumi banyaknya taman yang menghiasi pinggiran jalan tol yang bebas hambatan dan bebas bayaran tersebut. Di dalam bisa disediakan wifi, lagi, yang tentunya kita manfaatkan mengingat paket internet yang kita beli dari telkomsel ternyata tidak jalan-jalan. (Ada informasi bahwa paket yang kita beli tersebut hanya berlaku di wilayah Uni Emirat Arab yang khusus daerah arab. Nah lho, apa juga maksudnya? Bukankah kita berada di Abu Dhabi yang merupakan ibu kota dari negara Uni Emirat Arab? Lha kok paket internet nya tidak jalan bahkan di ibu kota dari wilayah yang disebut dalam paket, yaitu paket UEA selama 7 hari yang harga paketnya 350.00 rupiah. Ah sudahlah, toh ada wifi ini di Bis ini. Syukuri saja. Alhamdulillah.

Tidak terasa, karna digabung dengan tidur-tidur ayam yang nikmat di bis tersebut, kami pun tiba di terminal Bis Batuba. Ketika keluar Bis, kita melihat bahwa terminal tersebut berada di bawah Mall besar, yang kelihatannya cukup menarik untukdikunjungi. Apalagi hari itu waktu sudah masuk ke jam makan, sekitar pukul 11.45. Kamipun sepakat kita masuk dulu ke mall dan makan siang serta sholat dulu. Bahkan direncanakan bahwa karena paket internet tidak hidup, kita akan membeli satu kartu sim, yang internetnya akan kita pakai dengan cara tethering atau jadi hot spot. Ada juga sih niat lain, yaitu akan bertanya bagaimana caranya naik metro link, yang pada saat itu kami belum tau lokasi dan cara untuk menaikinya.

Alhasil, kami berhasil makan siang (memilih makanan FIlifina), kemudian sholat, kemudian membeli SIM Card. Yang ingin diceritakan di sini adalah, betapa ribetnya membeli SIM Card di sini. Nomor passport harus masuk, dengan sekian banyak isian yang harus diisi juga. Tetapi setelah berhasil dicoba, betapa leganya kita karena segera handphone kita segera aktif, menerima banyak pesan WA dan email. Tetapi kemudian, karena kita sudah malas tanya-tanya dan balik lagi ke tempat tadi turun bis di mana lokasi metro link terletak, kami akhirnya putuskan untuk memanggil taksi dan meminta supir untuk mengantar kita ke Al Burj Khalifa. Inilah hasil-hasil fotonya.

 

     

Al Burj Halifa di latar belakang

Di seberang Dubai Mall

Berpose di depan aquarium di menara Al Burj-Khalifa.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.